RSS

DENGAN IKHLAS, TERBEBAS DARI KECEMASAN

27 Agu

Salah satu penyebab kecemasan yang dialami oleh kebanyakan orang adalah rasa jengkel pada diri mereka dengan tingkah laku dan perbuatan orang lain atau mereka diabaikan oleh orang lain, sehingga ia merasa rendah diri.

Sebagai contoh, satu hal yang membuat seseorang sangat cemas dan merasa terganggu adalah ia merasa kawan dan kerabat-kerabatnya, tidak memperlakukannya dengan semestinya seperti halnya ia bergaul dengan mereka. Padahal, di lain pihak, ia mengunjungi mereka, mencintai mereka, dan memberi bantuan serta pertolongan kepada mereka. Namun, mereka tidak membalasnya dengan perlakuan yang sama.

Berawal dari hal itulah, ia mulai merasa rendah diri dan tidak dihormati oleh orang lain. Akibatnya, ia sering merasa sedih karena ia telah berbuat baik kepada mereka, namun mereka tidak membalasnya dengan kebaikan, bahkan mereka membalasnya dengan penolakan. Agama Islam yang suci telah mengajarkan kita kaidah yang luhur berkaitan dengan hal ini. Dengan kaidah ini kita dapat menghilangkan rasa cemas. Kaidah ini terungkap dalam sabda Rasulullah saw,

“Yang dimaksud dengan waasil (penyambung silaturrahmi), bukanlah mukaafi’ (orang yang membalas dengan balasan yang setara), akan tetapi yang dimaksud dengan waasil (penyambung silaturrahmi) adalah orang yang apabila ia telah diputus hubungan silaturrahminya ia berusaha menyambungnya lagi.” ( HR. Bukhari dan yang lainnya )

Demi Allah, itu adalah kaidah yang sangat berharga agar terbebas dari rasa cemas yang timbul karena tidak adanya keseimbangan dalam suatu hubunga. Hadits di atas menjelaskan bahwa waasil (penyambung silaturrahmi) adalah orang yang menyambung tali silaturrahmi dan menyambung tali silaturrahmi orang lain. Waasil (penyambung silaturrahmi) bukanlah mukaafi’ (orang yang bergaul dengan sesanya dengan cara saling membalas dengan balasan yang setara). Maksudnya bila mereka mengunjunginya, maka ia akan balas mengunjungi mereka dan bila meraka tidak menyambung silaturrahmi dengannya, maka ia pun akan memutus hubungan silaturrahmi dengan mereka. Bukan seperti itu maksudnya. Maksud dari waasil adalah orang lebih baik dalam memperlakukan orang lain daripada perlakukan orang lain kepada dirinya.

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Qastalany dalam Fathul Bari memberikan penjelasan hadits di atas. “Aku katakan bahwa tidak adanya menyambung silaturrahmi bukan berarti silaturrahmi itu diputuskan. Dalam hal ini, terbagi menjadi tiga golongan, yaitu yang pertama adalah waasil; kedua adalah mukaafi’; dan ketiga adalah qaathi’. Maksud dari waasil adalah orang yang berkenan memberikan kemurahan. Maksud dari mukaafi’ adalah orang yang dalam memberikan sesuatu tidak lebih dari apa yang telah ia peroleh. Maksud qaathi’ adalah orang yang selalu diberi kemurahan, namun ia tidak berkenan untuk memberikan kemurahan.”

Intisari dari penjelasan ini adalah bahwa Anda tidak akan dapat menjadi waasil di sisi Allah swt, dan tidak akan dapat menyambung silaturrahmi dengan saudara-saudara Anda sesama muslim, juga tidak akan mendapatkan pahala silaturrahmi, kecuali dalam menyambung silaturrahmi itu niat Anda ikhlas karena Allah, Tuhan semesta alam.

Dalam arti lain, Anda menyambung silaturrahmi kepada mereka bukan karena mereka, melainkan karena Allah, sehingga Anda memperoleh pahala yang sangat besar. Bila mereka membalas menyambung silaturrahmi kepada Anda, maka mereka tergolong sebagai mukaafi’. Ini juga suatu hal yang bagus karena bila Anda menyambung silaturrahmi kepada mereka, mereka pun akan membalasnya kepada Anda. Hal ini telah menjadi tuntutan karena dapat mewujudkan jiwa persaudaraan dan saling menyayangi antara sesama muslim. Akan tetapi, bila mereka membalas sambutan Anda dengan pemutusan silaturrahmi dan tidak membalas ajakan silaturrahmi Anda, maka mereka tergolong sebagai qathi’.

Dengan begitu, mereka akan mendapatkan dosa, sedangkan Anda berhak mendapat pahala. Pada saat itu,

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 27, 2011 in Renungan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: