RSS

JADILAH SOSOK BERBEDA

02 Agu

Didikan keluarga yang salah akan berperan besar dalam mewariskan kepada anak-anak sifat yang suka ikut-ikutan dan tidak memiliki pendirian. Lebih lanjut, hal itu berperan besar pula dalam upaya menjadikan pribadi anak mirip sekali dengan pribadi ayah atau ibunya.

Sebagai contoh, seorang ayah berusaha keras untuk menjadikan anaknya mirip betul dengan apa yang ia kehendaki atau paling tidak, mirip seperti dirinya. Ia menghendaki anaknya agar mirip dengan dirinya dalam hal pandangannya mengenai masa depan, gaya berpikirnya, dan perilakunya secara umum.

Sosok ayah seperti di atas tidak mengetahui atau bahkan tidak menginginkan anaknya memiliki pribadi yang independen, yaitu sosok pribadi yang sangat berbeda dengan pribadi ayahnya. Ia bahkan tidak mendukung anaknya dengan pribadi yang independen. Ia justru ingin menentang dan mengubah kepribadian anaknya dengan kepribadiannya. Hal ini merupakan permasalahan besar yang menimpa sosok generasi-generasi baru. Hal ini menyebabkan mereka terombang-ambing, kehilangan pegangan, dan tidak memiliki kepercayaan diri. Akibatnya justru anak itu tidak mampu menjadi sosok pribadi yang diinginkan kedua orang tuanya.

Problem kita adalah kita tidak menghargai bahwa masing-masing kita memiliki kepribadian yang berbeda-beda satu sama lain. Sebagai contoh, Ahmad dikenal mahir dalam hal melukis, sedangkan Samir dikenal gemar bidang matematika. Ayah lebih menggemari bidang  bahasa. Orang tua mereka anggap salah bila meminta Ahmad agar seperti Samir dalam bidang matematika, atau meminta Samir agar seperti Ahmad dalam hal ilmu lukis atau seni. Semua itu merupakan bakat dan ciri khas pribadi masing-masing. Setiap individu memiliki kepribadian masing-masing yang harus kita pahami. Kita tidak boleh meminta seseorang agar memakai kepribadian orang lain.

Contoh lainnya, Abdullah adalah sosok pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ia dikenal gemar melukis sejak usianya masih teramat muda. Kedua orang tuanya sangat memahami hal itu. Sekalipun nilai rapor Abdullah agak rendah dalam bidang-bidang lain, namun nilai rapor Abdullah secara keseluruhan tergolong sedang. Untungnya, kedua orang tua Abdullah tidak memaksannya untuk meninggalkan seni lukis dan berpaling ke bidang lain yang lebih berpotensi. Berkat pengertian dan dukungan kedua orang tuanya untuk mengembangkan bakatnya dalam bidang ini, juga karena tidak adanya paksaan dari orang tuanya agar memakai kepribadian lain, Abdullah berhasil dalam hidupnya.

Abdullah berhasil di masa sekolah menengah pertamanya, kemudian ia melanjutkan ke jenjang sekolah menengah atas. Setelah itu, ia melanjutkan ke fakultas seni. Ia pun menyadari bahwakeberhasilan studi yang ia tempuh di tingkat menengah dan tingkat atas, belum menghasilkan prestasi.ketika masuk ke fakultas seni, ia memperoleh nilai yang sangat bagus, bahkan ia berada di peringkat pertama. Ia juga dikandidatkan untuk menjadi dosen pembantu dan kemudian menjadi dosen tetap di universitas. Namun ia tidak dapat melanjutkan ke jenjang pascasarjana.

Setelah lulus kuliah, ia langsung terjun ke pekerjaan yang ada kaitannya dengan kesenian. Hal itu lebih menguntungkan dan sangat besar faedahnya baginya. Ia termasuk orang ya g paling berhasil kariernya.

Problem utama yang sering timbul adalah keyakinan orang tua yang menyatakan bahwa suatu keberhasilan hanya terbatas pada bidang tertentu saja. Seumpamanya, setiap orang tua menghendaki anak-anaknya agar menjadi dokter, apoteker,  insinyur, dan lain sebagainya.

Berawal dari hal ini, setiap orang tua mendorong anak-anaknya hanya pada salah satu dari bidang-bidang tersebut di atas. Tanpa memandang kecenderungan dan kemauannya. Begitu pula sebagian besar orang menyakini betul bahwa ciri khas yang menggambarkan keberhasilan hidup bagi seseorang adalah terdapat pada ketaatan, keteraturan, komitmen, dan seterusnya. Sebagai umpama, bila seseorang anak dikenal sebagai sosok pemurung di sekolahnya, orang tua tentu akan khawatir apabila anaknya kelak akan menjadi orang yang gagal. Begitu pula halnya apabila anak itu terlibat dengan hal-hal yang patut dipertanyakan, tidak patuh kepada perintah orang tua, tentu kedua orang tua akan khawatir bila kelak anaknya akan menjadi orang yang gagal, dan seterusnya.

Hal yang harus dimengerti oleh kedua orang itu bahwa keberhasilan dan kegagalan adalah suatu hal yang sangat relatif. Terkadang, kegagalan dalam bidang tertentu bisa jadi sebagai jalan menuju keberhasilan dalam bidang lain.

Keyakinan para orang tua itu bukanlah syarat yang memastikan seseorang akan berhasil, juga bukan suatu hal yang mutlah kebenarannbya, bahkan terkadang sebagiannya boleh jadi mengarah kepada kegagalan.

Apalagi sebagian besar orang tua telah mempelajari keyakinan itu dari orang lain. Terkadang, terlalu berlebih-lebihan dalam mendidik anak agar berperilaku sesuai dengan keyakinan itu, justru dapat mengarahkannya kepada kegagalan.

Mengapa Anda tidak membiarkan anak Anda sesuai dengan kemauannya dan tidak berdasarkan kemauan Anda. Anda harus memahami bahwa anak Anda adalah sosok yang berbeda yang tidak lebih baik dan lebih buruk daripada anak lain. Hanya saja, memang anak Anda pasti berbeda dari yang lain.

Ini yang seharusnya Anda benar-benar ketahui. Jangan berupaya mengubah kepribadiannya hingga ia mirip seperti anak ini atau anak itu. Hal itu akan menyebabkan sang anak menjadi mudah cemas ketika ia tumbuh dewasa kelak karena ia terbiasa membandingkan dirinya dengan orang lain. Sebagaimana dahulu ia pelajari dari kedua orang tuanya. Lebih lanjut, hal ini akan menjadikan sang anak itu merasa puas sama sekali dengan kesadaran dirinya. akibatnya, ia selalu diselimuti kecemasan, kesusahan, dan kesedihan. Ia juga kehilangan kepercayaan diri karena ia akan mengerjakan apa yang orang lain ingin kerjakan. Keinginan itu bukan berasal dari keinginannya pribadi atau dorongan perasaannya.orang seperti ini menganggap sisi pandang orang lain sebagai hal terpenting dalam hidupnya, sehingga kita akan mendengar ia mengucapkan, “ Saya harus seperti yang lain”. “ Mengapa Anda melarang saya untuk berbuat sesuatu seperti yang diperbuat teman-teman saya?”. “ Kata-katanya menunjukkan makna ikut-ikutan dan tidak berpendirian, juga menunjukkan sikap meniru kepribadian orang lain.

Islam sebagai agama kita yang suci telah menentang sifat ikut-ikutan. Islam sangat mengagungkan independensi dalam kepribadian individu. Dalam Islam, istilah ikut-ikutan dinamakan ‘imma’iyah yang diambil dari kata ‘imma’a yang terdiri dari susunan dua kata yakni’in yang berartu ‘jika’ dan ‘ma’a’ yang berarti ‘bersama’. Jadi, artinya adalah ‘jika orang-orang berbuat ini, maka saya bersama mereka’.

Rasulullah saw. Bersabda :

“ janganlah kalian ikut-ikutan, para sahabat bertanya, ‘Apa arti ‘Imma’ah wahai Rasulullah ? ‘Rasulullah saw menjawab, ‘Saya bersama orang-orang jika orang-orang berbuat baik, maka saya pun berbuat baik. Jika mereka berbuat zalim, maka saya pun berbuat zalim, melainkan aturlah diri kamu sendiri. Jika orang-orang berbuat baik hendaknya kalian ikut berbuat baik, namun bila mereka berbuat buruk maka janganlah kalian ikut-ikutan zalim (berbuat buruk)”. ( HR. At-Tirmidzi)

Pribadi orang yang gemar ikut-ikutan adalah pribadi yang suka menempel dan lemah, padahal di satu pihak Islam membutuhkan sosok muslim yang berkepribadian kuat dan independen serat sosok pribadi yang istimewa dan lain daripada yang lain.

Anda harus merasa bahwa sosok kepribadian Anda istimewa. Anda berbeda dari orang lain. Anda memiliki kepribadian yang dapat menjadi kebanggaan bagi Anda. Anda memiliki ciri khas tersendiri. Anda memiliki pemikiran sendiri. Anda tidak tunduk kepada pengaruh luar dan tidak tunduk kepada gaya orang lain.

Anda harus memiliki jalan hidup sendiri. Jangan mengambil jalan hidup orang lain. Anda boleh mirip dengan orang lain hanya dalam hal kebaikan dan ketataan. Namun jangan berupaya mirip dengan orangb lain selain Anda.

Sebagai contoh, ketika membaca Al-Qur’an, janganlah berupaya untuk mirip dengan gaya bacaan orang lain. Orang lain itu memiliki gaya sendiri. Apa gunanya kita hanya mendapati salinan ulang dari orang lain dan orang itu ?

Jika Anda berupaya meniru gaya orang, Anda tidak akan memberikan tambahan yang berarti, melainkan hanya sekadar salinan saja. Seandainya Anda membca Al-Qur’an dengan gaya khas Anda. Anda akan memberi tambahan suatu hal yang baru. Sesuatu yang baru inilah sosok pribadi Anda dan ini merupakan hasil reaksi pribadi Anda terhadap bacaan Al-Qur’an serta reaksi Anda terhadap manisnya kata-kata indah dari Al-Qur’an. Oleh karenanya, janganlah meniru orang lain.

Sistem tarbiah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Kepada para sahabat beliau yang mulia, juga tidak berdasarkan metode ikut-ikutan, baik dalam hal mengajar ataupun dalam hal memberikan bimbingna. Tarbiah Rasulullah itu tidak bertujuan untuk menghasilkan salinan-salinan yang memiliki ciri khas dan karakter yang sama. Tarbiah yang dijalankan Rasulullah saw. Memperhatikan asas perbedaan kemampuan individu dan mengakui adanya kemampuan-kemampuan tertentu bagi tiap individu, sehingga dapat menempatkan masing-masing kemampuan pada porsinya.

Mari kita renungkan bersama hadits Rasulullah saw.,

ارحم امتى بامتى ابو بكر, واشدهم فى امرالله عمر, واصدقهم حياء عثمان ,واقرؤهم لكتاب الله ابى بن كعب , وافرضهم (يعنى اعلمهم بالفرائض ) زيد بن ثابت , واعلمهم بالحلال والحرام معاذ بن جبل , الا وان لكل امة امينا, وان امين هذه الامة ابو عبيدة بن الجراح.

“Orang yang paling pengayang kepada umatku adalah Abu Bakar. Orang yang paling tegas dalam menegakkan urusan Allah adalah Umar. Orang yang paling memiliki rasa malu adalah Utsman. Orang yang paling pandai membaca Al-Qur’an adalah Ubay bin Ka’ab. Orang yang paling ahli alim dalam ilmu faraidh adalah Zaid bin Tsabit. Orang yang paling alim dalam membedakan mana yang halal dan haram adalah Mu’adz bin Jabal. Bukanlah setiap umat itu pasti ada yang berjiwa pemimpin dan pemimpin umat ini adalah Abu Ubaidah bin Jarrah”. ( HR. At-Tirmidzi, An-Nasa’i, At-Thabrani, dan Al-Baihaqi ).

Perasaan bangga Anda dengan diri pribadi, komitmen untuk tetap berpegangan dengan hal itu, serta sikap Anda yang tidak suka meniru orang lain, semuanya ini membantu Anda untuk memperoleh ketenangan jiwa dan berperan juga dalam rangka mengatasi kecemasan dan kesusahan. Hal ini pula yang akan menjadikan Anda merasa bahagia.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 2, 2011 in Renungan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: